Monday, 31 August 2015

Bertukar Kartupos, Hobi (yang katanya jadul) Nan Mengasyikan


Ya ampuuun sudah lama sekali tidak menyambangi blog tersayang ini. Sibuk? Yaaa gitu deh. Tahun 2015 ini rasanya saya jarang sekali punya waktu santai di kantor, biasanya masih sempat saja intip-intip blog dan wall postcrosser lain untuk mengagumi koleksi kartuposnya di waktu istirahat. 
Sejak blog ini saya buat memang tidak saya khususkan menjadi blog buku atau blog kartupos atau blog apa, kalau kemudian kebetulan saya pernah menulis beberapa resensi buku itupun karena saya tidak tau harus menulis apa di sini. Saya akui saya memang “pembaca sejati" dan ini dengan bangga saya jadikan sebagai alasan kenapa saya tidak terampil dan tidak terlalu senang menulis. Kalau Roberth Galbraith a.k.a Jk. Rowling bilang dalam The Silkworm bahwa the whole world is writing novels but nobody's reading them maka berterimakasihlah para penulis novel kepada orang seperti saya karena saya yang bahkan tidak pernah terpikir untuk menerbitkan sebiji cerpen pun J
Hobi saya memang cukup banyak, saya senang membaca novel (novel apasaja kecuali genre romantis), suka menonton film (apa saja selain fim romantis dan yang terlalu banyak action tanpa plot yang berarti), saya senang mendengarkan  musik (musik apa saja selain Dangdut karena Dangdut kini telah menjelma menjadi lagu tak jelas dengan lirik yang seronok), saya menggemari kartupos dan bertukar kartupos, saya senang menulis surat dan aktif ber-snailmail bersama beberapa sahabat pena di beberapa negara dan saya juga menyenangi hewan peliharaan terutama Kucing (saya mengadopsi seekor Kucing yang di rumah sudah kami anggap sebagai anggota keluarga). Dan karena saya belum menemukan orang yang dapat berbagi hobi yang sama sekitar saya, maka saya menulis di blog ini semata-mata untuk berbagi segala sesuatu yang saya gemari. Kepada siapa? Kepada kamu yang sekarang sedang membaca blog saya. Salam kenal ya J
Berhubung judul tulisan ini sudah ditetapkan (takdir kali), maka sekarang saya hanya akan menulis tentang salah satu hobi saya saja, bertukar kartupos. Saya sudah menyenangi hobi ini sejak lama. Jauh sebelum saya mengkoleksi kartupos, saya pernah menjadi pengumpul prangko, katanya sih namanya filateli, tapi karena waktu itu saya masih kecil, tidak sadar bahwa hobi saya memiliki sebutan yang keren dan banyak peminatnya. Hobi tersebut bermula saat saya menemukan beberapa surat antara ibu dan ayah saya, kebetulan ibu saya pernah bekerja di luar negeri, jadi surat-surat tersebut memiliki prangko yang amat menarik. Sayang sungguh sayang prangko-prangko yang saya selamatkan dari aktivitas korespondensi mereka malah hilang tak karuan karena mobilitas keluarga saya yang cukup tinggi alias sering pindah rumah dan kontrakan J jadilah setiap kali pindah rumah koleksi (berharga) tersebut tercecer tak karuan, sampai habis sama sekali.
Setelah saya menikah dan bekerja di Jakarta, saya mulai mengenal website Postcrossing  namun saat itu saya belum berminat untuk menekuni mengingat kesibukan bersama anak-anak lebih menyenangkan dari hobi apapun di dunia (iya dong). Naaah sejak 2014 lah saya baru mulai mendaftar dan aktif bertukar kartupos karena anak-anak saya yang sudah mulai masuk sekolah dasar dan sudah pandai bermain sendiri  tidak terlalu sering merecoki saya saat di rumah, saya bisa bebas memilih dan menulisi kartupos, sebuah aktivitas yang amat saya nikmati hingga saat ini.
Sudah berapa koleksi kartupos saya? Sebenarnya belum terlalu banyak, jika dilihat dari profil saya belum mencapai 100 buah, tapi sejak saya memiliki beberapa penpals dari project tersebut saya mendapatkan banyak kartupos dari mereka, saya pun memiliki beberapa teman bertukar kartupos di luar system pertukaran resmi via website Postcrossing (direct swap) yang malah jauh lebih banyak.
Sejak tadi malam saya mulai menscan semua kartupos saya dan secara bertahap akan saya unggah ke blog ini, bukan apa-apa sih hanya agar saya memiliki catatan berapa banyak kartu yang sudah saya miliki sekaligus berbagi cerita kepada oranglain,  karena seperti kehidupan manusia setiap kartupos pun punya kisahnya sendiri-sendiri,     

Salah satu koleksi saya, saya selalu suka kartupos bergambar suasana di musim salju, sedikit mengobati keinginan mengalami musim yang mustahil terjadi di negeri kita ini, yaiyalah serem amat kalo ada winter di sini :-D
 
Cathedral of Aachen di Jerman, meskipun belum pernah menginjakkan kaki di sana saya punya beberapa foto landscape Negara asal mobil VW tersebut dari 3 orang penpals saya
 
Sekian dulu cerita saya. Jangan lupa kembali lagi kesini saat kamu punya waktu luang ya, mungkin blog saya sudah lebih menarik dari sekarang.- insyaalloh :-) atau barangkali kamu juga punya kegemaran yang sama dengan saya? Monggo ditulis alamat blog kamu di kolom komentar, saya akan dengan senang hati mengunjungi "rumah" kamu ;-) (atau jangan-jangan saya sudah pernah melakukannya, karena saya hampir sudah membaca semua blog postcrosser yang berasal dari Indonesia #StalkerSejati :-D.
Selamat Hari Seniiinnn.....


 

Friday, 13 March 2015

Waktu


Peribahasa mengatakan "Waktu adalah uang , ini menunjukkan betapa waktu sangat berharga dan harus dihargai sebagaimana kita menghargai uang, artinya harus digunakan secara efisien alias diirit dan dihemat. Waktu ini sesuatu yang terasa absurd, dia tidak terlihat dan kurang terasa, dan hanya disadari keberadaanya manakala telah hilang dari genggaman (baca : kehilangan kesempatan). Orang bijak berkata waktu adalah anugerah. Bagi saya, waktu adalah kehidupan. 

You may delay but time will not. (Benjamin Franklin)

Monday, 9 February 2015

Ada yang mau lungsuran La Tulipe Acne Prone Series??

Sebelumnya biarkan saya memperjelas bahwa saya bukanlah seorang beauty blogger yang biasa menulis review produk-produk skincare atau kosmetik. Meskipun 1 bula belakangan ini saya sedang berganti-ganti skincare, hal itu saya lakukan semata-mata karena saya belum menemukan produk yang cocok dengan kulit wajah saya selepas memakai krem dokter.
Sebelumnya saya menggunakan Estetiderma, selama bertahun-tahun dan saya cukup puas dengan semua perawatan dan skincare Estetiderma. Jenis kulit saya kombinasi cenderung berminyak di daerah T dan acne prone, selama menggunakan Estetiderma saya terbebas dari masalah-masalah kulit terutama jerawat, satu saja kendala yang saya rasakan adalah rasa malas untuk membeli krem ke klinik Estetiderma dimana saya harus menyempatkan ke klinik yang jaraknya nanggung dari kantor saya sehingga saya harus rela jalan kaki berpanas-ria di sela-sela jam istirahat , meskipun hal ini bisa saya siasati dengan membeli krem sekaligus tapi setelah bertahun-tahun saya merasa harus mencoba menggunakan skincare yang bisa didapatkan dengan mudah di mana saja dan kapan saja.
Singkat cerita dimulailah petualangan mencoba skincare saya sejak 1 bulan yang lalu. Dan pilihan pertama saya jatuh pada La Tulipe Acne Prone Series. Saya tidak bermaksud membahas tentang produk ini, tulisan ini hanya sebagai pengantar saja bahwa intinya sebagai proyek trial and erorr saya yang pertama, produk ini tidak cocok di kulit saya. Saya membaca beberapa tulisan yang menyatakan bahwa produk ini bagus, dan menurut saya itu tidak salah sama sekali, saya percaya menggunakan skincare itu jodoh-jodohan ya dan kebetulan La Tulipe Acne Prone Series tidak berjodoh dengan saya.
Jadi Waktu itu produk yang saya beli adalah 1 pouch paket La Tulipe Acne Prone Series yang berisi (kalau tidak salah ya, karena saya menulis ini di kantor sementara produk tersebut tertinggal di rumah) : 
1 buah La Tulipe Acne Facial Cleanser 25gr (Belum pernah dipakai)
1 buah La Tulipe Acne Freshener 120 ml (Belum pernah dipakai)
1 buah La Tulipe Acne Cleansing Lotion 120ml (Belum pernah dipakai)
1 buah La Tulipe Acne Evening Gel 25gr (dipakai sekali)
1 buah La Tulipe Acne Total Care Lotion 60ml (dipakai sekali)
1 buah La Tulipe Acne Care Cream 25gr (dipakai sekali)
1 buah La Tulipe Acne Sun Protection Gel 25gr (dipakai sekali)
Plus 1 buah La Tulipe Acne Sunscreen 25gr yang belum pernah dipakai dan masih tersegel, ceritanya saya nefsong beli tambahan sunscreen di luar paket.
Update 10 Februari : Foto produk yang mau saya lungsurkan, 

Naah, berhubung (seperti yang saya tulis di atas) saya tidak cocok menggunakan produk-produk di atas, daripada saya buang sayang atau saya simpan juga tidak bermanfaat, saya bermaksud melungsurkan paket La Tulipe Acne Prone Series tersebut di atas, bagi kamu yang berminat silakan kirimkan alamat kamu via e-mail ke bibliofili@yahoo.com, produk-produk tersebut bisa saya kirimkan ke alamat kamu free alias gratis, yah kalau kamu mau membalas dengan menngirim balik beberapa lembar kartupos cantik, saya tidak keberatan sih ^_^
Foto-foto dan tanggal expired menyusul besok yah....

Update 10 Februari 2015 :

  • Paket La Tulipe yang akan dilungsurkan tanpa cosmetic pouch nya yah, karena barusan diminta teman saya ^_^
  • Tanggal kadaluwarsa yang tertera di kemasan Maret 2017.
Update 18 Maret 2015 :
Paket La Tulipe sudah terkirim ke Jeng Fiyah.


Monday, 3 November 2014

Jhonatan Strange & Mr. Norrel, perseteruan 2 Penyihir terbesar abad Ini


  • Judul Buku : Jhonatan Strange & Mr. Norrel (trilogi)
  • Penulis : Susanna Clarke
  • Penerjemah : Femmy SyahraniPenyunting : Tim Editor Qanita
  • ISBN-10 : 979-22-4863-3, ISBN-13 : 978-979-22-4863-0 
  • Cetakan September 2009
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Jumlah Halaman : Jilid I :, Jilid II :, Jilid III : 464 hlm
  • Harga : Rp. 100.000 harga asli 160.000 (beli di Kaskus)
  • Rating : Remaja
Trilogi ini sungguh kisah yang sangat kompleks dan detail, dengan ketebalan yang cukup mengenyangkan meskipun sudah dibagi ke dalam 3 jilid. Novel ini menceritakan perseteruan 2 penyihir Inggris pada tahun 1800-an (semasa Napoleon Bonaparte berjaya) dengan 2 idealisme yang bertentangan yang sama-sama berjuang mengembalikan kejayaan sihir di Ingrris Raya. 
Ringkasan Cerita :
Jilid I 
Menceritakan kondisi Inggris Raya pada masa peperangan sekutu Inggris melawan Napoleon Bonaparte dari Perancis. Di masa saat perbudakan masih terjasi, kaum bangsawan dan para pria terhormat di Inggris meyakini  bahwa ilmu sihir adalah sebuah ilmu pengetahuan yang hanya layak dipelajari seperti kita mempelajari pelajaran sejarah di dalam kelas, dan mereka meyakini bahwa tidak ada seorang penyihirpun yang menguasai seni sihir praktis pada masa itu karena seni sihir telah lama punah bersama kepergian Sang Raja Gagak, yaitu guru dari segala guru para penyihir praktis di masa lalu. Sehingga, meskipun banyak pria terhormat di masa itu yang mengakui sebagai penyihir, bahkan membuat sebuah organisasi bernama Perkumpulan Penyihir York, tidak satupun diantara mereka yang pernah mempraktekan satu mantra pun dalam hidupnya dan mereka lebih pantas disebut sebagai penyihir teoritis. 
Mr. Norrel adalah seorang pria kaya raya kutu buku yang tinggal di pedesaan dan memiliki koleksi buku-buku sihir terlengkap yang pernah ada. Dia tidak pandai bergaul dengan orang lain dan mempercayakan keperluan sosialnya kepada pesuruh kepercayaannya Jhon Childermass. Pada suatu hari, Mr Norrel melancarkan muslihat untuk menguasai koleksi buku di perpustakaan Perkumpulan Penyihir York sehingga namanya menjadi terkenal (dan sesuai dengan klaimnya) sebagai satu-satunya penyihir praktis yang pernah ada setelah ratusan tahun. Dan untuk mewujudkan cita-citanya mengembalikan kejayaan sihir di Inggris, Mr. Norrel dan Childermass kemudian pindah ke kota London.
Jilid II
Menceritakan perjuangan Mr.Norrel memperkenalkan seni sihir kepada Inggris dengan siasat mendekati para bangsawan dan pejabat pemerintahan Inggris. Pada masa ini Mr. Norrel yang tidak pandai bersosialisasi didekati dan akhirnya berteman dengan Drawlight (seorang pria yang sebetulnya miskin yang mampu mempertahankan gaya hidup mewahnya dengan selalu memastikan diri untuk selalu berdekatan dengan para bangsawan dan kaum berada dengan membual serta mlakukan penipuan) serta Lasceles pecinta kesenangan yang lebih beruntung dari drawlight karena mampu membiayai gaya hidupnya dengan harta benda dan kekayaannya sendiri. 
Pada masa-masa

Tuesday, 21 October 2014

Kangen BBC Sherlock

Ceritanya 2 bulan ini langganan tv kabel di rumah kami belum dibayar, alhasil deh tayangannya diblokir, daripada kepala saya sakit mantengin acara tv yang isinya hanya seputar sinetron, lomba nyanyi, berita politik dan acara joged-jogedan, rasanya lebih bijak saya mengisi waktu ddengan menonton -lagi- serial BBC Sherlock di laptop saya, yang untungnya tidak pernah membuat saya bosan meski ditonton berulang-ulang 
Buat kamu yang belum tau serial BBC Sherlock itu kerennya kayak apa -Duh... kasian banget sih....-  silakan browsing dan cari tau sendiri kehebohannya atau buka situs fans resminya di sini atau bisa juga buka situs fansnya Sherlock Holmes di sini.
Serial BBC Sherlock memang bukanlah serial pertama yang diadaptasi dari karya besar Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes. Tapi saya pribadi sampai dengan saat ini ya paling suka Sherlock Holmes versi BBC ini, bahkan dibandingkan dengan Sherlock Holmes versi layar lebar yang keren itu.

Di serial ini Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman sangat apik memerankan Sherlock Holmes dan Jhon Watson, Gaya Cumberbatch yang cool, angkuh, polos dan cenderung konyol dalam menggambarkan karakter Sherlock versi modern ini sangat pas dipadukan dengan suara seksi dan aksen Britishnya yang sangat enak didengar itu. Tidak heran saya bukan satu-satunya orang yang tergila-gila dengan dia :-D
Martin Baggins Freeman sendiri sangat pas memerankan Jhon Watson yang mengagumi dan cenderung ngemong pada Sherlock. Di serial ini Sherlock dan Jhon diceritakan memiliki blog, yang lucunya blog mereka benar-benar ada. Saya sendiri sudah khatam bolak-balik stlaking blognya Jhon Watson lengkap dengan komentar-komentarnya yang kocak, karena blognya Sherlock memang kurang menarik. Ya, sama dengan karakter Sherlock asli karya Mr. Doyle, Sherlock di serial ini pun diceritakan tidak memiliki "selera" dalam menuliskan dirinya, jadi tidak heran bila diceritakan bahwa Sherlock semakin terkenal karena orang-orang kerap membaca aksi mereka lewat celotehan Jhon Watson di blognya, yang berhasil menceritakan aksi-aksinya bersama Sherlock dengan sedemikian rupa sehingga menjadi lebih dramatis lengkap dengan judul artikel yang "bergaya".
Judul-judul artikel Jhon Watson sendiri -yang kemudian menjadi judul episodenya- merupakan adaptasi dari judul-judul cerita asli Sherlock Holmes karya Mr. Doyle, seperti Study in Pink yang merupakan adaptasi dari Study in Scarlet. Sampai dengan saat ini, serial Sherlock telah sampai ke season 3 dengan masing-masing terdiri dari 3 episode dan saat saya menuliskan artikel ini, serial Sherlock untuk season 4 -kabarnya- sedang dalam pengerjaan. 
Bagi kamu fans BBC Sherlock yang kangen dengan aksi pasanganThe Hatman and Robin ini, bisa mengobati rasa rindu dengan menonton ulang season 1-3 di AXN Indonesia, setiap Sabtu malam -saya lupa jamnya- masih diputar mulai dari season 1-3, Saya sendiri lebih senang menonton file unduhannya di laptop. Kamu juga bisa baca-baca blognya Jhon Watson atau mengintip blognya Sherlock yang sepi seperti blog saya di sini.
Kartupos Sherlock yang saya mau. (ebay)

Saat ini saya sedang ngiler berat dengan kartupos set Sherlock gara-gara melihat promonya di Amazon dan ebay. Semoga saja setelah ini ada Postcrosser yang berbaik hati mengirimi saya kartupos seperti itu *berdoa*. Demikian coretan absurd hari ini.
The game my dear, is ON ^_*

Bibliofili

Friday, 17 October 2014

Chocolate is Happiness

Salah satu koleksi kartupos saya yang bergambar cokelat.
Saya penyuka cokelat. Cokelat bagi saya adalah salah satu kesenangan yang sejati. Yaaaa.. meskipun kesenangan tersebut beresiko menambah deposit lemak di badan saya *nangis*. Saya bukan orang yang mellow, tapi ada masanya saya kadang merasa malas, kurang ceria, hal-hal kurang menyenangkan akibat hormon kewanitaan begitu deh. Berdasarkan pengalaman saya, mengunyah beberapa batang cokelat dalam kesempatan seperti itu efektif meningkatkan mood menjadi lebih happy  beberapa derajat. Tidak heran, karena menurut banyak artikel tentang cokelat yang saya baca, rasa coklat yang sedikit pahit namun lembut meleleh di lidah itu mampu meningkatkan hormon kebahagiaan.
Jadi, bila harimu terasa sendu biru kelabu, ambil saja sepotong cokelat, gigit, nikmati, dan biarkan cokelat menceriakan sisa harimu dengan manis ;-)
Jadi, kutipan saya untuk hari ini adalah :
We can't buy happiness, but we can buy a bar of chcocolate, and that for me is kind of the same thing.

Cheers!

Bibliofili

Wednesday, 15 October 2014

The Silkworm/ Ulat Sutra (Resensi Buku)

Cover buku The Silkworm

  • Judul Buku : The Silkworm (Ulat Sutra)
  • Penulis : J.K. Rowling
  • Penerjemah : Siska Yunita & M. Aan Mansyur (kutipan)
  • Penyunting : Tim Editor Qanita
  • ISBN : 978-602-03-0981-1
  • Cetakan I, Oktober 2014
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Jumlah Halaman : 536 hal
  • Harga : Rp. 101.500 (pre order  di bukabuku.com)
  • Rating : Dewasa

Sejak kesuksesan Cormoran menemukan pembunuh asli supermodel Lula Landry di novel The Cuckoo’s Calling, detektif partikelir ini mendadak terkenal dan kebanjiran klien, hal ini tentu saja amat membantu memperbaiki kondisi keuangan Cormoran yang tidak sehat. Kini, dengan banyaknya klien yang datang –ditambah daftar tunggu klien yang cukup panjang- Cormoran mampu menyewa sebuah flat kecil di atas kantornya, membeli beberapa perabotan agar kehidupannya dapat dijalani dengan lebih layak dan tentunya harapan untuk melunasi utangnya pada Jhony Rokeby dapat segera terwujud dan tentu saja menaikkan gaji sekretarisnya Robin yang sangat fungsional agar dia tidak “lari kemana-mana.
Namun di tengah-tengah banjir klien dengan kasus yang nyaris itu-itu saja (membantu mengumpulkan kelengkapan bukti-bukti perceraian, membantu mengungkap perselingkuhan atau mengungkap kecurangan partner bisnis dan kasus membosankan sejenisnya) Cormoran merindukan kasus yang mampu menantang dirinya secara intelektual. Dan pucuk dicinta ulam tiba, suatu hari datanglah ke kantornya seorang wanita paruh baya sederhana beranak satu, meminta jasa Cormoran untuk membawa pulang suaminya yang seorang penulis novel kurang terkenal Owen Quine. Owen telah menghilang hampir 2 minggu lamanya dan istrinya Leonora merasa tahu di mana dia berada namun tidak memiliki sumber daya untuk membawanya kembali pulang.
Cormoran yang mengambil kasus ini hanya karena dia merasa bosan dan frustasi dengan salah seorang kliennya yang kaya dan sombong ,sempat sedikit menyesali keputusannya mengambil kasus ini yang terlihat tidak menjanjikan secara finansial. Namun, setelah sang penulis akhirnya berhasil ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan cara kematian yang tragis dan menyeramkan, bersama fakta bahwa ternyata si penulis adalah bajingan peselingkuh dan sebelum kematiannya dia telah menyelesaikan penulisan sebuah novel kontroversial berjudul Bombyx Mori -yang adalah nama Latin dari Ulat Sutera- yang membuatnya berkonflik dengan beberapa orang yang berpengaruh di dunia penerbitan , mau tidak mau waktu dan tenaga Cormoran habis dicurahkan untuk menangani kasus ini, apalagi belakangan pihak polisi memukan satu demi persatu bukti yang mengarah pada Leonora sendiri

Thursday, 18 September 2014

Resensi Buku The Casual Vacancy

Cover Buku The Casual Vacancy

Judul Buku : The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong)
Penulis : J.K. Rowling
Penerjemah : Esti A. Budihabsari, Andityas Prabantoro dan Rini Nurul Badriah
Penyunting : Tim Editor Qanita
ISBN : 978-602-9225-68-6
Cetakan I, November 2012
Penerbit : Penerbit Qanita
Jumlah Halaman : 596 hal
Harga : Rp. 159. 000
Rating : Dewasa

Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang, Barry Fairbrother mati meninggalkan kursi kosong (casual vacancy).
Kematian Barry Fairbrother seorang anggota dewan kota Pagford di usia awal empat puluhan menjadi pukulan telak bagi istrinya Mary, ditinggalkan bersama keempat anak yang manis, Mary menjelma menjadi janda rapuh yang dihujani simpati hampir seisi kota Pagford.
Berbanding terbalik dengan Mary, Kirystal Weedon justru menuai kecaman dan dibenci hampir seluruh warga Pagford, memiliki seorang ibu pecandu yang keluar masuk panti rehabilitasi dan tidak memiliki pekerjaan, tidak berprestasi sedikitpun di sekolah dan cenderung memiliki sikap yang kasar dan kurang beradab membuat Krystal bukanlah anak yang diharapkan orangtua manapun untuk berteman dengan anak mereka, dan tunggu dulu….. ada satu lagi… Krystal berasal dari Fields…. Ya, Fields. Sebuah pemukiman yang menjadi sumber perselisihan dan perang dingin warga Pagford selama puluhan tahun.
Buku ini juga menceritakan